BERAWAL DARI SEBUAH KISAH NYATA

Seorang pemuda yang sedang kuliah di seminari bergumul dengan karakternya yang tidak baik padahal setiap hari beribadah, bahkan kadang mendengar renungan firman Tuhan 2-3 kali dalam satu hari. Belum lagi ditambah dengan membaca dan membahas pemikiran-pemikiran yang mulia.  Akan tetapi, dia merasa ironis sebab karakternya belum banyak berubah, justru kadang semakin pintar berpura-pura baik dan memakai istilah-istilah rohani untuk membenarkan kesalahannya.

Di dalam keadaan seperti itu, si pemuda ini semakin merasa bersalah ketika pihak dosen memberikan semacam “Lembar Evaluasi Diri” yang intinya mempertanyakan, “Setelah kuliah selama beberapa tahun maka menurutmu layakkah engkau lulus dari sekolah ini?”

Pertanyaan itu semakin menghentak kegelisahan emosinya.  Akhirnya dia memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan dengan bertanya “Apakah yang harus kulakukan ya Tuhan agar hidupku memiliki karakter mulia seperti yang Bapa kehendaki?”  Setelah berdoa itu maka pikirannya diarahkan untuk mencoba belajar melakukan KASIH yang ada di dalam 1 Kotintus 13.

Si pemuda ini menuliskan ke-14 karakteristik dari KASIH itu di dalam kertas lalu menempelkannya di atas tempat tidurnya.

Pagi itu, dia mengawalinya dengan berdoa agar Tuhan membimbingnya untuk melakukan KASIH ITU SABAR.  Akan tetapi dalam hari itu, dia gagal karena ngomel dan harus bertengkar dengan temannya yang suka memakai telepon asrama dalam waktu yang lama untuk berpacaran sehingga yang lain tidak bisa memakai telepon itu.  Malam harinya, dia berdoa dan menangis minta maaf karena gagal.

Pagi hari yang kedua, dia berdoa lagi agar dimampukan untuk menjadi orang yang SABAR.  Dia bersyukur karena hari itu mulai ada peningkatan kesabaran, yaitu satu kali gagal dan satu kali berhasil.  Malam hari itu, dia mencatat kegagalan dan keberhasilannya dalam satu buku.  Kemudian berdoa agar terus dimampukan selama satu bulan itu mampu membangun karakter KESABARAN dalam dirinya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu, si pemuda itu terus membangun karakternya.  Setelah dia melihat kembali catatan harian (Diary) membangun karakternya maka dia menemukan bukti bahwa Tuhan telah bekerja dalam dirinya dengan memperbaharui karakternya sedikit demi sedikit tapi nyata dampaknya.  Sungguh dia merasa heran sebab sukacitanya begitu besar.

Si pemuda itu mengulang lagi melatih dirinya dengan karakteristik dari KASIH. Setelah berkembang maka dia melanjutkan membangun karakternya dengan menggunakan nats Galatia 5, sebab ternyata KASIH itu merupakan bagian dari Buah Roh yang ada di dalam Galatia 5:22-23.  Kehidupan si pemuda itu terus dan terus berproses dalam membangun karakternya.

Ketika si pemuda itu melanjutkan kuliahnya di S-2, dia dan pacarnya diminta untuk menangani anak-anak dari satu panti asuhan yang mengalami kesulitan dalam karakternya.  Sehubungan pacarnya dari latar belakang pendidikan psikologi maka dilakukanlah beberapa penelitian dan akhirnya ditemukan beberapa hal yang membuat prilaku anak-anak itu tidak tidak baik. Akhirnya, selain meminta anak-anak itu membangun karakternya dengan karakteristik-karateristik dari Buah Roh, mereka juga dibimbing dalam menyelesaikan luka-luka batinnya.  Selain itu, pihak yayasan juga diberikan beberapa masukan dalam pengasuhan dan pembinaan di panti asuhan tersebut.

Di lain waktu, si pemuda itu diminta oleh salah satu universitas negeri di Jawa Timur untuk menyampaikan tema karakter bagi MaBa (mahasiswa baru).  Si pemuda itu membuat materinya dalam bentuk buku Diary Membangun Karakter KASIH.

Si pemuda dan pacaranya yang ada dalam kisah di atas tersebut adalah kami, yaitu Bhaktiar dan Livia.

Akhirnya, itulah awal dari munculnya buku Membangun Karakter.

BERKEMBANG MENJADI SEBUAH GERAKAN

Munculnya buku awal dari membangun karakter dalam bentuk buku saku atau buku Diary maka dimulailah juga suatu gerakan membangun karakter. Hal itu diperkuat dengan penegasan dari Menteri Pendidikan yang memunculkan ide pendidikan karakter pada tahun 2012.

Sebagai bukti keseriusan kami terhadap misi membangun karakter ini, kami telah mengadakan survei, pengkajian, dan penelitian. Berdasarkan hasil survei dinyatakan bahwa Kekristenan sangat memerlukan program membangun karakter. Demikian juga, berdasarkan pengkajian dan penelitian berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab, ternyata kekristenan seharusnya menjadi pelopor utama dalam membangun karakter.
Kami juga mengadakan Survey Membangun Karakter pada tahun 2013 terhadap 1.000 remaja di SMP dan SMA negeri dan swasta di Surabaya, Jawa Timur. Berikut ini adalah beberapa hasilnya.  Dari data ini kita akan melihat bahwa para remaja membutuhkan pendidikan karakter karena mereka mau membangun karakternya.

1. angket            2. angket           3. angket

Oleh karena itu, kami hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan program membangun karakter. Berbekal rangkaian kajian dan pengalaman, kami merancang program pelatihan, konsultasi, serta multimedia.

Menu