Apa tujuan Pendidikan Kristen?

Pendidikan harus mencapai pengenalan akan diri dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus sehingga mengalami pertumbuhan spiritual, kognitif, afektif dan psikomotorik yang diaplikasikan dalam pengabdian diri kepada sesama dan bagi kemuliaan Tuhan.

Penjabaran rumusan di atas:

  1. Pengenalan diri akan keberdosaan setiap manusia, yang menjadi penyebab utama rusaknya segala aspek kehidupan,
  2. Perjumpaan dengan Yesus lewat pemberitaan keselamatan di dalam Yesus Kristus dari keberdosaan kepada proses pemulihan total,
  3. Membimbing peserta didik dalam penelaahan/pendalaman Alkitab di bawah bimbingan Roh Kudus
  4. Membimbing peserta didik dalam proses pertumbuhan kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritual yang diaplikasikan dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama.
Penjelasan kata-kata penting di atas adalah sebagai berikut:
1. “…pengenalan diri dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus…”

Dalam defenisi diatas ada dua kata, yaitu Pengenalan dan Perjumpaan. Oleh karena itu, pertanyaan yang pertama adalah “Apakah manusia bisa di bawah kepada pengenalan diri kalau bukan karena pengenalan akan Allah?” Calvin (2000;7) berkata bahwa manusia yang dibawa ke dalam pencarian akan identitas dirinya dan di dalam menjawab pergumulan, penderitaan, serta persoalan yang ia hadapi akan mengantar ia pada pengetahuan akan Allah.
R.C. Sproul (1998;168) mengatakan bahwa pada saat manusia menyadari siapa dirinya, maka pada saat itu ia menyadari bahwa ia bukan Allah; ia adalah makhluk ciptaan. Kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan mendorong manusia untuk berpikir tentang penciptaNya.
Kita perlu terlebih dahulu mengerti siapakah Allah agar kita bisa mengerti siapakah manusia. Jika manusia tidak mau mengerti Allah, tetapi hanya mau mengerti manusia, kemudian membayangkan tentang siapa manusia, akhirnya manusia itu masuk ke dalam spekulasi yang antroposentris (suatu pandangan yang berpusat pada manusia). Oleh karena itu, pengenalan haruslah sejalan dengan perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus.
Kalau kita tanya lebih lanjut, mengapa harus pengenalan dan perjumpaan yang menjadi tujuan pendidikan Kristen? Mengapa tujuan pendidikan Kristen bukan transformasi tatanan sosial? Untuk mejawab ini perlu saya tekankan lagi apa yang dinyatakan oleh A.A. Smith yang dikutip oleh Boelkhe (2005;679):

 

Iman Kristen tidak memperbolehkan orang berharap begitu romantis bahwa bila suatu sistem tertentu dirobohkan, umpamanya kapitalisme, perbudakan, militarisme, maka akar kejahatan sudah dicabut pula. Memang sudah bagus dan perlu agar setiap macam pola buruk dalam gelanggang sosial dibinasakan, namun realisme Kristen tidak kunjung berilusi bahwa pembinasaan itu akan mencabut akar kejahatan dari dalam diri insani. Tatkala liberalisme memeluk gagasan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, ia jatuh secara gampang pada ilusi bahwa akar dosa pada pokoknya tinggal dalam kekuatan-kekuatan yang tidak bersifat pribadi.

Kalau kita simpulkan pernyataan Smith tersebut maka dosalah yang harus diselesaikan oleh pendidikan, bukan tatanan sosial. Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah membawa anak didik yang telah berdosa itu kepada pengenalan dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus agar diselamatkan dari ikatan dosa itu.

2. “…mengalami pertumbuhan kognitif, afektif dan psikomotorik…”

Terjadinya pertumbuhan di sini adalah akibat dari pengenalan dan perjumpaan secara pribadi dari setiap anak didik kepada Tuhan Yesus Kristus. Mengapa demikian? Karena firman Tuhan dalam I Korintus 3;6 berkata “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” Artinya, setiap pelaksana pendidikan, baik itu juga guru haruslah menyadari kapasitasnya adalah sebagai penanam dan penyiram, sedangkan yang memberi pertumbuhan adalah Tuhan. Oleh karena itu, sebagai pelaksana pendidikan haruslah mempunyai langkah-langkah penanaman nilai-nilai kristiani yang benar dan disirami di setiap hari, yang diatur di dalam kurikulum.
Langkah-langkah penanaman dan penyiraman nilai-nilai di dalam pertumbuhan anak didik itu bukan hanya sekedar aspek pengetahuan, tetapi juga aspek afektif, psikomotorik. Sebenarnya aspek pertumbuhan itu juga harus melingkupi spiritual. Hal spiritual ini penting karena manusia yang seutuhnya itu adalah manusia yang memiliki aspek pendidikan yang holistik. Dalam melaksanakan penanaman dan penyiraman kognitf, afektif, dan psikomorik anak didik bisa juga memperhatikan tahapan-tahapan kemampuan anak didik seperti yang dinyatakan dalam Taksonomi Bloom, baik itu dalam kognitf, yaitu

3. “…yang diaplikasikan dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama.”

Dunia pendidikan pada umumnya melihat tujuan akhir dari pendidikan adalah terjadinya transformasi atau perubahan, misalnya:

a. Asas penting Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan itu menjadikan “Manusia salam bahagia, masyarakat tertib damai”. Hidup salam bahagia artinya selamat lahir dan bahagia batin.(Tauhid, 1963;33)
b. Filsafat pendidikan agama Roma Katolik memandang bahwa hal yang paling utama untuk diperhatikan adalah adanya perubahan perilaku. (Moran, 1984;45)
c. Lawrence O. Richards, menyatakan “Christian education is concerned with the progressive transformation of the believer toward the character, values, motives, attitudes, and understanding of God Himself.” (Benson, 1984;66)

Berdasarkan pandangan filosofi di atas maka aspek transformasi pendidikan itu memiliki perbedaan penekanan aspek perubahan. Oleh karena itu, penulis perlu menjelaskan essensi dari perubahan dalam pendidikan Kristen, yaitu perubahan ke arah pengabdian kepada Tuhan dan sesama.
Mengapa harus diaplikasikan dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama? Pengertian dasar dari kata pengabdian, yaitu Latreia, mempunyai pengertian melayani, menyembah atau mengabdi (Rom 12:1; Mat 4:10; Luk. 2:37; Kis. 26:25). Oleh karena itu, pengabdian itu berdasar beberapa aspek, yaitu:
Pertama, tujuan tertinggi dari manusia adalah memuliakan Allah (Ef. 1:6, 12, 14) sehingga pengabdian yang tulus dan mulai dapat terjadi karena manusia itu sudah mengalami pemulihan gambar dan rupa Allah.
Kedua, pengabdian sebagai responsibility akan pelaksanaan Hukum Kasih, Mat. 22:37:40, yaitu kepada Allah dan sesama. Istilah yang dipakai Tuhan Yesus untuk panggilan Kristen terhadap sesama adalah dengan menjadi “Garam dan Terang dunia” (Mat. 5:13-16).
Hal penting yang harus diperhatikan dalam tujuan ini adalah peran guru sebagai pendidik bukan hanya sebagai pentransformasi pengetahuan tetapi guru harus menjadi teladan. Oleh karena itu, salah satu ciri khas guru haruslah mengabdikan diri kepada Allah. Anak didik perlu melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dari para gurunya.

Oleh Bhaktiar Sihombing

, , , , , ,
Menu